-->
Cari Berita

Breaking News

Sampah Rumah Tangga dan Harga yang Harus Kita Bayar (4)

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 18 September 2026




Oleh: Dwi Setyorini, M.E

Founder RESAKU (Recycle Sakai Sambayan)


Harga yang Harus Kita Bayar


Berapa harga sebuah kantong plastik?

Mungkin hanya beberapa ratus atau beberapa ribu rupiah. Kita membelinya, menggunakannya sebentar, lalu membuangnya. Selesai.


Tetapi benarkah selesai?

Bagaimana jika kantong plastik itu masuk ke selokan, menyumbat aliran air, kemudian berkontribusi pada genangan atau banjir? 


Bagaimana jika sampah yang menumpuk membuat lingkungan kotor dan menimbulkan gangguan kesehatan? Siapa yang kemudian membayar biaya untuk membersihkan, memperbaiki, dan memulihkan dampaknya?


Di situlah kita mulai memahami bahwa harga sampah jauh lebih mahal daripada harga barang yang kita buang. Selama ini, kita terbiasa menghitung harga ketika membeli sesuatu. Kita membayar makanan, minuman, pakaian, atau berbagai kebutuhan rumah tangga. Namun kita jarang menghitung biaya setelah barang tersebut berubah menjadi sampah. Padahal, setiap sampah membutuhkan pengelolaan.


Ada biaya untuk mengumpulkan. Ada biaya untuk mengangkut. Ada biaya untuk memilah dan mengolah. Ada biaya untuk menyediakan fasilitas. Dan ketika sampah tidak dikelola dengan baik, muncul biaya lain yang jauh lebih besar yaitu : Biaya lingkungan, Biaya kesehatan, Biaya sosial dan biaya ekonomi.


Harga yang Dibayar Masyarakat

Ketika saluran air tersumbat oleh sampah dan terjadi banjir, kerugiannya bukan hanya air yang menggenang. Rumah bisa terdampak. Aktivitas masyarakat terganggu. Kendaraan sulit bergerak. Pelaku usaha dapat kehilangan waktu dan pendapatan. Fasilitas umum membutuhkan perbaikan. Semua memiliki nilai ekonomi.


Begitu pula ketika lingkungan tercemar. Pemerintah dan masyarakat membutuhkan sumber daya untuk membersihkannya. Ketika kualitas lingkungan menurun, kenyamanan dan produktivitas masyarakat juga dapat ikut terganggu. Belum lagi ketika masalah lingkungan berdampak pada kesehatan. Ketika seseorang sakit, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Ada waktu yang hilang karena tidak dapat bekerja atau beraktivitas. Ada keluarga yang harus mendampingi.


Inilah biaya sampah yang sering tidak terlihat.


Kita mungkin hanya membuang satu bungkus makanan, tetapi biaya akibat pengelolaan yang buruk dapat ditanggung oleh banyak orang.


Siapa yang Sebenarnya Membayar?

Pertanyaan pentingnya adalah : siapa yang membayar harga tersebut?


Sebagian ditanggung pemerintah melalui anggaran pengelolaan lingkungan dan kebersihan. Sebagian ditanggung masyarakat melalui berbagai biaya dan kerugian yang muncul. Sebagian lagi ditanggung oleh keluarga ketika kesehatan terganggu atau aktivitas ekonomi terhenti. Dengan kata lain, sampah yang kita hasilkan secara pribadi dapat berubah menjadi biaya yang ditanggung bersama. Inilah yang membuat persoalan sampah tidak bisa dianggap sepele. Ketika kita membuang sampah sembarangan, mungkin kita merasa telah menghemat waktu. Tidak perlu memilah. Tidak perlu memikirkan ke mana sampah tersebut pergi. Namun sebenarnya kita hanya memindahkan biaya dan tanggung jawab kepada orang lain.


Sampah yang Sebenarnya Masih Bernilai

Ada ironi lain dalam persoalan ini. Di satu sisi, sampah menjadi beban. Di sisi lain, sebagian sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi. Kardus, kertas, botol plastik, logam, dan berbagai material lainnya dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali. Sisa makanan dapat diolah menjadi kompos. Barang yang masih layak digunakan tidak selalu harus langsung dibuang. Ketika sampah dipilah sejak dari rumah, material yang masih bernilai dapat masuk kembali ke dalam proses pemanfaatan. Artinya, kita memiliki dua pilihan.


Sampah dapat menjadi biaya, atau sampah dapat menjadi nilai.

Jika semuanya dicampur dan dibuang, kita membutuhkan biaya lebih besar untuk mengelolanya. Jika dipilah dan dimanfaatkan, sebagian sampah justru dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan. Di sinilah pengelolaan sampah seharusnya mulai dipandang bukan hanya sebagai kewajiban kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan.


Harga Masa Depan

Ada satu harga yang sering kali tidak kita masukkan dalam perhitungan: harga yang harus dibayar oleh generasi berikutnya. Jika hari ini kita terus menghasilkan sampah tanpa mengurangi dan mengelolanya dengan baik, persoalan tersebut tidak akan berhenti bersama kita. Generasi berikutnya akan menghadapi lingkungan yang lebih terbebani, kebutuhan pengelolaan yang semakin besar, dan sumber daya yang semakin terbatas. Kita mungkin tidak melihat tagihannya hari ini, tetapi lingkungan akan menyimpan akibat dari setiap pilihan kita. Karena itu, mengurangi sampah bukan sekadar tindakan kecil untuk membuat rumah terlihat bersih. Ini adalah bentuk investasi untuk masa depan.


Mari Mengubah Cara Menghitung

Sudah saatnya kita tidak hanya bertanya: “Berapa harga barang yang saya beli?”

Tetapi juga: “Berapa biaya yang muncul setelah barang ini menjadi sampah?”


Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah perilaku kita. Kita mulai berpikir sebelum membeli. Kita mulai mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Kita mulai menggunakan kembali barang yang masih layak. Kita mulai memilah sampah dari rumah. Karena setiap rumah menghasilkan sampah, setiap rumah juga memiliki kesempatan untuk mengurangi bebannya.


Pada akhirnya, harga sampah bukan hanya angka rupiah. Harganya bisa berupa lingkungan yang rusak, kesehatan yang terganggu, waktu yang hilang, pendapatan yang berkurang, anggaran yang terus bertambah, hingga kualitas hidup generasi mendatang.(*)

LIPSUS