![]() |
Perayaan ulang tahun ke-15 Kompas TV bertajuk "Indonesia B15A" di Jakarta. Foto: Ist. |
INILAMPUNGCOM-- Di sudut Desa Bulok, Kabupaten Lampung Selatan, asap dari tungku penjerang nira kelapa menyebarkan aroma manis yang khas. Semerbak proses pembuatan gula semut itu seolah mengabarkan prospek baru dari ratusan hektare kebun kelapa yang sebelumnya hanya menghasilkan buah untuk dijual sebagai bahan mentah.
Pendampingan manajemen PTPN I (Persero) Regional 7 dalam beberapa tahun terakhir menjadi titik awal upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di Desa Bulok. Warga desa yang merupakan wilayah penyangga Unit Kerja PTPN I (Persero) Regional 7 Kebun Bergen itu selama ini mengandalkan hasil tanaman kelapa, tetapi belum memperoleh nilai ekonomi yang optimal.
Kini, pola pemanfaatan kelapa mulai berubah. Nira yang sebelumnya belum diolah secara maksimal disadap dan diproses menjadi gula semut. Produk tersebut dikemas secara higienis dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi karena mulai menembus pasar modern.
Perubahan dari komoditas mentah menjadi produk hilir itu menarik perhatian Kompas TV. Dalam perayaan ulang tahun ke-15 Kompas TV bertajuk "Indonesia B15A" di Jakarta, Rabu (9/9/2026), Suprayitno, Ketua UMKM Nira Sari, menjadi salah satu bintang tamu sekaligus dinobatkan sebagai salah satu "Local Heroes".
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya Suprayitno bersama para petani mengembangkan usaha pengolahan nira kelapa menjadi gula semut.
Suprayitno menyampaikan terima kasih kepada PTPN I (Persero) Regional 7 yang telah membina dan mendampingi pengembangan usaha tersebut. Menurutnya, sebelum mendapat pendampingan terstruktur, petani masih bergantung pada rantai perdagangan tradisional dengan nilai jual yang terbatas.
“Sebelumnya, kegiatan kami sebatas budidaya kelapa secara tradisional. Begitu dipetik, langsung dilepas ke penadah untuk dikirim ke Jakarta dengan harga yang seadanya. Kami terus berikhtiar mencari jalan keluar agar hasil panen kelapa di desa ini punya nilai tambah yang nyata bagi kesejahteraan warga,” ungkap Suprayitno.
Upaya membangun kemandirian ekonomi warga mulai berkembang setelah PTPN I (Persero) Regional 7 melakukan pendampingan pada rantai nilai komoditas kelapa. Pendampingan tidak hanya berupa bantuan, tetapi mencakup teknis pengolahan, penerapan higienitas, perbaikan kemasan, hingga pembukaan akses pasar.
“Alhamdulillah, dari pendampingan PTPN I, kami melek hilirisasi. Kami dibekali ilmu pengolahan gula semut, dibantu alat dan mesin modern, serta disalurkan 810 bibit kelapa unggul. Bantuan bibit ini menjadi investasi paling berharga untuk menjamin pasokan bahan baku usaha kami tetap aman dan berkelanjutan di masa depan,” katanya.
Region Head PTPN I (Persero) Regional 7, Iyan Heryanto, mengatakan penghargaan "Local Heroes" menjadi salah satu bukti bahwa kolaborasi antara BUMN dan masyarakat desa dapat menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Penghargaan ini kami dedikasikan seutuhnya bagi keuletan para petani di Desa Bulok. Di PTPN I (Persero) Regional 7, kami memegang prinsip bahwa program tanggung jawab sosial dan pembinaan UMKM tidak boleh berhenti pada aksi karitatif atau seremonial semata. Arahnya harus jelas: membangun kemandirian ekonomi, menaikkelaskan kapasitas usaha warga, dan menciptakan efek berganda di sekitar wilayah operasional perkebunan,” tegas Iyan.
Menurut Iyan, hilirisasi komoditas berbasis masyarakat menjadi salah satu kunci memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan di tengah dinamika pasar.
“Kemandirian warga di sekitar kebun adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi keberlanjutan perseroan. Melalui hilirisasi, kita buktikan bahwa komoditas desa tidak selamanya harus dijual murah sebagai bahan mentah. Kami berkomitmen untuk terus mengawal Nira Sari dan UMKM lainnya agar semakin tangguh, memenuhi standar mutu industri modern, dan mampu menjadi pilar ekonomi yang berdaya saing tinggi di pasar nasional,” pungkas Iyan.(mfn/rls)

