![]() |
| Tim SAR mencari Jurnalis peliput Erupsi Gunung Anak Krakatau (ist/inilampung) |
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
Ketika seseorang dinyatakan hilang atau terjadi bencana, seperti lima jurnalis peliput erupsi Gunung Anak Krakatau, maka keluarga korban dan masyarakat berharap Tim Search and Rescue (SAR) segera menemukan dan menyelamatkan korban. Namun, di balik operasi pencarian tersebut terdapat personel yang bekerja dalam tekanan tinggi yaitu medan yang berbahaya, keterbatasan waktu, cuaca yang tidak menentu, kelelahan, serta harapan besar dari keluarga korban.
Karena itu, operasi SAR bukan hanya membutuhkan kemampuan teknis dan fisik. Kesiapan psikologis menjadi bagian penting dari keberhasilan misi. Personel harus mampu mengelola stres, mempersepsikan risiko, mengambil keputusan secara tepat, menjaga komunikasi, dan tetap bekerja sama dalam kondisi penuh tekanan.
Bakker dan Demerouti (2019) melalui Job Demands-Resources Theory menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat meningkatkan kelelahan, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui sumber daya seperti dukungan sosial, kompetensi, kepemimpinan, dan lingkungan kerja yang baik.
Dalam konteks SAR, pelatihan, pengalaman, peralatan, prosedur keselamatan, serta dukungan tim merupakan sumber daya yang membantu personel menghadapi tuntutan pekerjaan.
Ketangguhan dan Pengambilan Keputusan
Salah satu kemampuan psikologis yang penting bagi personel SAR adalah resiliensi atau ketangguhan psikologis. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah takut, lelah, atau sedih. Resiliensi adalah kemampuan untuk tetap berfungsi secara adaptif ketika menghadapi tekanan dan situasi sulit.
Southwick et al. (2019) menjelaskan bahwa resiliensi merupakan proses dinamis yang dipengaruhi faktor psikologis, sosial, biologis, dan lingkungan. Artinya, ketangguhan personel SAR tidak hanya berasal dari karakter pribadi, tetapi juga dari pelatihan, pengalaman, dukungan rekan kerja, serta sistem organisasi.
Aspek lain yang sangat penting adalah persepsi risiko dan pengambilan keputusan. Dalam operasi pencarian, informasi sering kali tidak lengkap. Lokasi korban belum tentu diketahui secara pasti, kondisi medan dapat berubah, dan waktu terus berjalan. Tekanan untuk segera menemukan korban dapat memengaruhi cara seseorang menilai risiko. Karena itu, keputusan harus tetap didasarkan pada informasi yang tersedia, prosedur keselamatan, pengalaman, serta komunikasi dengan anggota tim.
Kahneman (2019) menjelaskan bahwa manusia dapat menggunakan heuristics atau jalan pintas berpikir ketika mengambil keputusan. Cara tersebut dapat membantu dalam situasi tertentu, tetapi juga berpotensi menimbulkan bias, terutama ketika seseorang berada dalam tekanan. Prinsip penting dalam operasi SAR adalah bahwa keinginan menyelamatkan korban harus berjalan bersama dengan keselamatan personel. Jangan sampai operasi penyelamatan justru menimbulkan korban baru.
Kerja Tim, Regulasi Emosi, dan Risiko Psikologis
SAR merupakan pekerjaan yang sangat mengandalkan teamwork dan kohesi tim. Kepercayaan, komunikasi, koordinasi, dan kemampuan saling mendukung dapat membantu tim tetap efektif ketika menghadapi tekanan. Selain itu, personel membutuhkan regulasi emosi. Gross (2019) menjelaskan regulasi emosi sebagai proses individu dalam memengaruhi emosi yang dialami dan bagaimana emosi tersebut diekspresikan.
Dalam operasi SAR, personel mungkin melihat penderitaan korban, berhadapan dengan keluarga yang cemas, atau mengalami kekecewaan ketika pencarian belum membuahkan hasil. Kemampuan mengelola emosi membantu mereka tetap profesional dan fokus pada tugas.
Namun, paparan berulang terhadap situasi traumatis juga dapat memberikan dampak psikologis. Compassion fatigue dan post-traumatic stress merupakan risiko yang perlu diperhatikan, terutama ketika personel berulang kali terlibat dalam kejadian bencana atau kematian. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental personel tidak boleh berhenti ketika operasi selesai. Debriefing, dukungan rekan kerja, waktu pemulihan, dan akses terhadap bantuan psikologis dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan personel.
Dalam perspektif Islam, pekerjaan menyelamatkan manusia memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32). Namun, usaha menyelamatkan orang lain juga harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan diri.
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Rasulullah SAW juga bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah...” (HR. Muslim No. 2664). Pesan tersebut dapat menjadi penguatan bahwa kekuatan bukan hanya fisik, tetapi juga kemampuan menghadapi tekanan, mengendalikan diri, dan terus memberikan manfaat bagi sesama.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa Tim SAR tidak hanya menghadapi risiko fisik, tetapi juga beban psikologis. Tekanan waktu, ketidakpastian, kondisi medan, harapan keluarga korban, serta paparan terhadap peristiwa traumatis dapat memengaruhi kondisi mental personel.
Karena itu, kesiapan psikologis harus menjadi bagian dari kesiapan operasional SAR. Pelatihan tidak hanya perlu menguatkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan mengelola stres, regulasi emosi, persepsi risiko, pengambilan keputusan, komunikasi, dan kerja sama tim.
Pada akhirnya, keberanian seorang personel SAR bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap berpikir jernih, bekerja bersama tim, memperhitungkan risiko, dan menjalankan misi kemanusiaan secara profesional. Mereka yang bertugas mencari dan menyelamatkan orang lain juga perlu dijaga secara fisik maupun psikologis. (**)

