INILAMPUNGCOM --- Acungan jempol layak disampaikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Putra kelahiran Kotabumi, 8 Maret 1980 itu mampu membawa Provinsi Lampung sebagai salah satu sentra ekosistem bioethanol nasional.
Peran Provinsi Lampung dalam pengembangan energi terbarukan nasional itu diwujudkan melalui diluncurkannya Bioethanol Development Center di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Selasa pagi, 14 September 2026.
Gubernur Mirza optimistis, keberadaan pusat pengembangan tersebut dapat membawa Lampung menjadi salah satu sentra ekosistem bioetanol nasional.
Diketahui, pengembangan Bioethanol Development Center ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, pemerintah daerah serta sejumlah mitra.
Mirza mengatakan, kekuatan Lampung sebagai daerah agraris harus dikembangkan lebih jauh. Hasil pertanian tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sumber energi dan bahan baku industri.
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri. Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Gubernur Mirza yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Lampung.
Menurutnya, Bioethanol Development Center tidak hanya menjadi fasilitas baru, tetapi menjadi langkah awal membangun ekosistem yang menghubungkan pertanian, riset, teknologi, industri dan energi.
“Apa yang kita mulai di Lampung hari ini adalah bagian dari langkah besar Indonesia menuju kemandirian energi,” kata dia.
Lampung dinilai memiliki modal besar untuk pengembangan bioetanol. Sekitar 27 persen struktur ekonomi daerah ditopang sektor pertanian. Produksi ubi kayu Lampung mencapai sekitar 7,5 juta ton dan berada di peringkat pertama nasional. Produksi padi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling, jagung sekitar 1,7 juta ton, serta tebu dengan produksi sekitar 724 ribu ton gula kristal putih.
Potensi tersebut dinilai memungkinkan pengembangan bioetanol menggunakan berbagai bahan baku atau multi-feedstock.
“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Pengembangan sorgum juga menjadi salah satu bagian penting dari proyek tersebut. Ekosistem yang dibangun dirancang mulai dari pengembangan benih, budidaya, mekanisasi pertanian dan pengolahan biomassa hingga produksi bioetanol serta produk turunannya.
“Kalau itu berhasil, manfaatnya tidak hanya dirasakan Lampung, tetapi juga Indonesia,” ujar Gubernur Mirza.
Peluang Ekonomi Baru
Ia menilai, pengembangan bioetanol dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani, UMKM, tenaga kerja, dunia usaha hingga kalangan peneliti.
“Inilah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan sekadar mengolah bahan baku. Tetapi menciptakan nilai tambah yang kembali kepada masyarakat,” kata Mirza.
Sementara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengatakan, pengembangan bioetanol di Lampung bertumpu pada empat pilar, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi serta ketahanan ekonomi nasional.
Bioetanol diarahkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar bensin yang konsumsi nasionalnya mencapai 36 juta kiloliter per tahun.
Todotua mengungkapkan, pemilihan Lampung sebagai lokasi pengembangan tidak terlepas dari potensi riset biomassa daerah tersebut.
Diceritakan, temuannya saat melihat pengembangan teknologi biomassa di Fukushima, Jepang. Enzim dan bibit sorgum yang digunakan dalam riset di sana ternyata dikembangkan dari Lampung.
"Waktu saya lihat plan di Jepang kapasitas 60.000, saya ketemu dengan orang-orang risetnya, mereka tahu Lampung. 'Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung, kita bawa.' Saya bilang tinggi betul. Di Jepang bisa buat begini, masa negara saya nggak bisa buat?," ungkap Todotua.
Pemerintah juga menjadikan pengembangan bioetanol di Brasil sebagai salah satu referensi. Negara tersebut disebut mampu memproduksi sekitar 38 juta kiloliter bioetanol per tahun dari singkong, jagung dan sorgum.
Ekosistemnya juga memanfaatkan produk samping produksi bioetanol untuk pakan ternak, gas biometana hingga pupuk organik.
Mulai Produksi Akhir 2026
Untuk tahap awal di Lampung, Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 dalam skala pilot project berkapasitas 60 kiloliter.
Pusat pengembangan tersebut didukung demplot budidaya seluas 10 hektare untuk menguji keekonomian produksi bioetanol generasi pertama berbasis singkong dan sorgum serta generasi kedua berbasis limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu.
"Development Center ini kita bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya, berapa harga kompetitif cost-nya yang bisa kita dapat. Karena yang namanya energi transisi, tantangan paling besarnya itu berbicara mengenai harga, cost. Target tahun depan kita dorong masuk skala komersial 60.000 kiloliter," tegas Wamen.
Skema pengembangan nantinya juga diarahkan melibatkan kelompok tani dan koperasi sebagai pemasok bahan baku.
"Harapannya kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya. Jadi ekosistemnya sangat luar biasa dan sangat nyambung," tutur Todotua.
Dalam kegiatan tersebut turut dilakukan penandatanganan kesepakatan pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy dengan Pemprov Lampung.
Selain itu, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Pembangunan Bioethanol Development Center ditandai dengan penuangan semen perdana dan dilanjutkan penanaman bibit sorgum di lahan percontohan seluas 10 hektare.
“Dari tanah Lampung, kita siap memimpin Indonesia menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kemakmuran rakyat berkelanjutan,” ucap Mirza. (kgm-1/inilampung)

