| Bersiasat jadi rektor | inilampung.com |
INILAMPUNGCOM --- Proses pergantian Rektor Universitas Lampung (Unila) telah dimulai sejak 14 Agustus 2026 lalu.
Enam akademisi internal mendaftarkan diri sebagai calon Rektor Unila periode 2027-2031. Dimulai dari Prof. Dr. Warsito. Berturut-turut kemudian Dr. Budiyono, SH, MH, Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked, M.Kes., Prof. Rudy, SH, LLM, LLD, Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, dan terakhir Prof. Dr. Hamzah, SH, MH, PIA.
Menurut agenda yang telah disusun panitia pemilihan, proses saat ini adalah masa penjaringan hingga 15 Oktober 2026. Dilanjutkan penyaringan dari tanggal 19 sampai 30 Oktober 2026.
Proses berikutnya pemilihan, yang akan dihelat antara bulan November hingga Desember 2026. Dan pemenangnya, dilantik pada 18 Januari 2027 mendatang.
Proses pemilihan Rektor Unila masih relatif panjang. Masing-masing kandidat telah mengemas berbagai ide untuk memajukan PTN terbesar dan tertua di Lampung tersebut. Semuanya baik. Semuanya prospektif. Semuanya optimistis.
Namun, inilampung.com menemukan ada kesamaan pada tiga dari enam calon Rektor Unila. Yaitu pada diri Dr. Budiyono, Prof. Asep Sukohar, dan Prof. Rudy.
Apa kesamaannya? Ketiganya lebih sering (menyukai) setir kendaraan mobil sendiri. Ketiganya akademisi itu, tidak memakai sopir pribadi, baik ketika aktivitas keluarga, ketemu kolega, dan kantor.
Apa makna dari kebiasaan tersebut? Menurut berbagai sumber, kebiasaan menyetir kendaraan sendiri mempunyai nilai nan positif.
Dari sisi psikologis, seseorang yang lebih menyukai menyetir sendiri ketimbang disopiri orang lain menunjukkan yang bersangkutan mempunyai jiwa independen dan kontrol diri yang tinggi (locus of control). Merasa lebih tenang ketika memegang kendali penuh atas situasi.
Selain itu, terus melatih terjaganya fokus dan refleks untuk semakin mantapnya kemampuan multitasking. Koordinasi antara mata, tangan, kaki, dan otak dalam mengambil keputusan akan terus terpelihara.
Bagi seseorang yang menyukai menyetir kendaraan sendiri juga meminimalkan stress dan rasa cemas. Serta menikmati prosesnya sebagai terapi atau bentuk lain dari rekreasi dan me time.
Dengan uraian tersebut, maka tiga calon Rektor Unila: Dr. Budiyono, Prof. Asep Sukohar, dan Prof. Rudy memiliki jiwa independen dan kontrol diri yang tinggi. Sebuah sisi lebih dari kualitas keilmuannya.
Profil Dr. Budiyono.
Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Fakultas Hukum Unila ini lahir di Tanjungkarang, Bandarlampung, pada 19 Oktober 1974. Saat ini pangkat/golongan Pembina Tk I/IVB.
Menjadi mahasiswa FH Unila tahun 1993, Budiyono menyelesaikan S1 tahun 1997 dilanjutkan S2 juga di FH Unila dari tahun 2002 hingga 2004.
Program Doktor/S3 ditempuh di FH Universitas Padjajaran, Bandung, dari tahun 2008 hingga 2012. Dan menjadi dosen tetap di FH Unila sejak tahun 2005.
Di lingkungan Unila, Budiyono pernah menjadi Ketua Bagian Hukum Tata Negara dari 20 Juli 2017 hingga 8 Januari 2020, kemudian menjabat Ketua -merangkap anggota- Satuan Pengendali Internal (SPI) dari 8 Januari 2020 hingga 9 Februari 2023, dan sejak 15 Januari 2025 -tercatat TMT hingga 14 Januari 2029- ia diamanahi posisi Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FH Unila.
Profil Prof. Asep Sukohar
Lahir di Jakarta 15 Mei 1969, ia menyelesaikan S1 di Fakultas Kedokteran Usakti Jakarta pada 1995, dengan IPK 3,21 dan studi tercepat. Master Kesehatan -S2- diraihnya dari Universitas Padjajaran, Bandung, pada peminatan farmakologi dengan prestasi cum laude dan IPK 3,86. S3 juga dari Universitas Padjajaran sebagai Doktor Farmako-Onkologi. Pun meraih cum laude dengan IPK 4,00 dan studi tercepat.
Asep Sukohar menapaki kariernya dengan menjadi dokter ICU RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, tahun 1995-1996, kemudian menjadi Kepala Puskesmas Rantau Tijang, Lampung, tahun 1996-1997, dilanjutkan dua tahun menjabat Kepala Puskesmas Gadingrejo, Pringsewu, 1997-1999.
Sejak 2002 hingga saat ini Asep Sukohar tercatat sebagai dosen tetap farmakologi Fakultas Kedokteran Unila. Ia pernah menjabat Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila, pada Januari 2020 hingga 2023.
Profil Prof. Rudy
Lahir di Telukbetung, Bandarlampung, 4 Januari 1981, ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Jakarta sejak 1999 hingga 2023 dan meraih gelar S1, SH.
Usai itu, Rudy meneruskan pendidikan di Kobe University, Jepang. Gelar S2 -Master of Laws (LL.M)- diraihnya dari bidang ilmu Law and Development yang ditempuh sejak 2005-2007. Dilanjutkan S3 juga di perguruan tinggi tersebut sejak 2009-2012 meraih gelar Doctor of Laws (LL.D).
Jabatan yang pernah diemban Rudy di lingkungan Unila, di antaranya Ketua Pusat Studi Hukum dan Pembangunan 2016-2023, Sekretaris LPPM 2019-2023, Ketua Bagian HTN FH 2012-2016, dan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan 2023-2024. (kgm-1/inilampung)

