-->
Cari Berita

Breaking News

Kecemasan Orang Tua dalam Menghadapi Konflik di Sekolah

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 05 September 2026

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA |  Dosen UIN Jurai Siwo Lampung


Konflik yang terjadi di sekolah tidak hanya berdampak pada siswa dan guru, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis orang tua atau wali. Ketika anak mengalami persoalan dengan guru atau sekolah, orang tua dapat merasakan kecemasan, kemarahan, kekhawatiran, dan ketidakpastian mengenai kondisi serta masa depan pendidikan anak. Hal tersebut relevan dengan pemberitaan mengenai dugaan konflik guru dan siswa di Pesisir Selatan pada Agustus 2026. Dinas Pendidikan masih melakukan klarifikasi dan menunggu hasil mediasi pengawas. Karena fakta kejadian masih dalam proses penelusuran, kondisi psikologis orang tua tidak dapat langsung disimpulkan. Namun, kasus tersebut menjadi konteks penting untuk mengkaji bagaimana konflik sekolah dapat memengaruhi keluarga.

Menurut Lazarus dan Folkman, stres dipengaruhi oleh cara seseorang menilai suatu peristiwa dan kemampuan yang dimiliki untuk menghadapinya. Dalam konteks orang tua, konflik yang melibatkan anak dapat menjadi sumber parental stress, terutama ketika informasi yang diterima terbatas atau tidak jelas. Pertanyaan kajian ini adalah: bagaimana konflik yang melibatkan anak di lingkungan sekolah memengaruhi kecemasan, kepercayaan terhadap sekolah, dan strategi coping orang tua atau wali?.

Kecemasan dan Kepercayaan Orang Tua

Kecemasan orang tua dapat muncul ketika mereka merasa keselamatan, kenyamanan, atau masa depan anak berada dalam situasi yang tidak pasti. Respons tersebut dapat berupa kekhawatiran berlebihan, kemarahan, kesulitan mengambil keputusan, atau keinginan untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Kepercayaan kepada sekolah menjadi faktor penting dalam menghadapi situasi tersebut. Komunikasi yang terbuka, informasi yang jelas, dan proses penyelesaian yang adil dapat membantu mengurangi ketidakpastian. Sebaliknya, komunikasi yang buruk dapat meningkatkan kecurigaan dan konflik antara keluarga dan sekolah.

Ketika konflik anak menjadi viral, orang tua dapat menerima berbagai komentar dan informasi yang belum tentu benar. Karena itu, orang tua perlu mengutamakan informasi yang terverifikasi dan menghindari tindakan yang didasarkan pada emosi sesaat. Beberapa kasus konflik guru-siswa di Indonesia yang menjadi viral menunjukkan bahwa persoalan di sekolah dapat berkembang menjadi persoalan publik. Hal ini menegaskan pentingnya komunikasi yang cepat, terbuka, dan bertanggung jawab antara sekolah dan keluarga.

Intervensi Psikologi Terapan dan Perspektif Islam

Beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada orang tua atau wali meliputi: Psychoeducation mengenai respons psikologis anak terhadap konflik, Parenting support agar orang tua mampu memberikan dukungan emosional kepada anak, Pelatihan coping dan regulasi emosi, Konseling keluarga apabila tekanan berlangsung berkepanjangan, Fasilitasi komunikasi antara orang tua, guru, dan sekolah, dan Restorative meeting untuk membangun kembali komunikasi dan kepercayaan apabila kondisi memungkinkan. 
Pendekatan tersebut sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang menekankan kesejahteraan psikologis, perlindungan, kolaborasi, dan hubungan yang saling menghormati antara sekolah dan keluarga.

Dalam perspektif Islam, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat tersebut mengajarkan pentingnya memperoleh informasi yang benar sebelum mengambil kesimpulan. Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan tersebut relevan bagi orang tua agar kemarahan terhadap persoalan anak dapat dikelola secara bijaksana tanpa mengabaikan kepentingan dan perlindungan anak.

Akhirnya penting untuk dicermati bahwa konflik yang melibatkan anak di sekolah dapat menjadi sumber kecemasan dan tekanan psikologis bagi orang tua. Namun, respons setiap keluarga berbeda sehingga kondisi psikologis tidak dapat disimpulkan tanpa asesmen. Kasus di Pesisir Selatan dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan sekolah dan keluarga melalui komunikasi yang terbuka, penyelesaian yang adil, serta dukungan psikologis bagi pihak yang membutuhkan. Psikologi terapan dapat membantu melalui psychoeducation, parenting support, konseling keluarga, pelatihan coping dan regulasi emosi, serta pendekatan restoratif. Dengan demikian, konflik tidak berkembang menjadi pertentangan berkepanjangan, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbaiki komunikasi, membangun kembali kepercayaan, dan memastikan kepentingan terbaik anak tetap menjadi prioritas. (**)

LIPSUS