![]() |
Andi Firmansyah - Pegiat Sosial, Kemanusiaan, dan Lingkungan |
KETIKA secangkir kopi Ijen tersaji di meja, yang sering kita rasakan hanyalah aroma, keasaman, rasa manis, atau pahit yang tertinggal di lidah. Kita menikmati hasil akhirnya, lalu melupakannya setelah tegukan terakhir.
Padahal, di balik secangkir kopi itu ada perjalanan panjang yang layak diketahui.
Ada tanah vulkanik yang subur, tanaman yang dirawat bertahun-tahun, tangan pekerja yang memetik buah kopi, pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, sejarah perkebunan lebih dari seabad, ekonomi masyarakat yang ikut bergerak, dan alam yang harus tetap dijaga.
Karena itu, jangan hanya menyeruput kopi Ijen. Lihatlah cerita yang tumbuh di balik setiap bijinya.
November tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kebun Kopi Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Hanya dua hari. Namun, perjalanan singkat itu mengubah cara saya memandang kopi.
Dari Jakarta, saya menempuh perjalanan dengan kereta api melalui Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bondowoso. Hampir 25 jam. Kereta berangkat dari Jakarta pada malam hari dan tiba di Surabaya pada sore berikutnya. Sambil menunggu perjalanan malam menuju Bondowoso, saya menyempatkan menikmati seporsi rawon di Kota Pahlawan.
Pukul 21.00 WIB, perjalanan dilanjutkan. Sekitar pukul 04.00 WIB, kami tiba di stasiun. Pak Samsul sudah menunggu untuk membawa kami menuju Kebun Kopi Ijen.
Dua jam perjalanan darat menjadi pintu masuk menuju dunia yang berbeda.
Semakin jauh meninggalkan Kota Bondowoso, udara terasa semakin sejuk. Rumah dan aktivitas perkotaan perlahan berganti dengan hamparan kebun masyarakat. Jalan berkelok membelah perbukitan, sesekali melewati kawasan wisata lereng Ijen.
Di tengah perjalanan saya bertanya kepada Pak Samsul.
“Ada jalan lain menuju Kebun Kopi Ijen, Pak?”
“Ini satu-satunya jalan, Mas,” jawabnya singkat.
Jawaban sederhana itu terasa memiliki makna. Jalan tersebut bukan sekadar akses menuju perkebunan, tetapi penghubung menuju kawasan yang telah melewati perjalanan sejarah panjang.
Kami akhirnya tiba di Mess Jampit atau Jampit Guest House. Bangunan yang didirikan pada 1927 itu masih menyimpan jejak masa lalu. Lantai kayu dan arsitektur klasik peninggalan masa kolonial membuat suasana terasa seperti membuka kembali halaman sejarah yang belum selesai ditulis.
Di sana saya semakin memahami bahwa kopi Ijen bukan sekadar tanaman.
Ia adalah sejarah. Ia adalah pekerjaan. Ia adalah pengetahuan. Ia adalah lingkungan. Dan bagi banyak orang, ia adalah sumber penghidupan.
Sejarah yang Masih Hidup
Jejak perkebunan kopi Ijen bermula pada 1890-an ketika pengusaha Belanda Gerhard David Birnie membuka perkebunan Blawan, yang kala itu dikenal sebagai Mount Blau, untuk mengembangkan kopi Arabika. Perkembangan kawasan kemudian berlanjut melalui pembukaan perkebunan Kalisat/Jampit pada 1927.
Dari kawasan ini, kopi Ijen berkembang menjadi komoditas yang dikenal hingga pasar Eropa. Waktu berganti, pemerintahan berubah, dan perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi. Pengelolaannya kemudian beralih kepada negara dan menjadi bagian dari perjalanan panjang perkebunan negara hingga kini berada dalam ekosistem PT Perkebunan Nusantara I (Persero).
Namun, sejarah terasa berbeda ketika dilihat langsung dari tengah perkebunan.
Di atas kertas, sejarah mungkin hanya berupa nama dan tahun. Di Ijen, sejarah hadir dalam bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, dan orang-orang yang setiap hari bekerja di dalamnya.
Itulah sebabnya secangkir kopi tidak pernah benar-benar hanya berisi kopi. Ada sejarah panjang yang ikut sampai ke dalamnya.
Di Balik Biji Kopi, Ada Kehidupan
Kebun Ijen bukan hanya tempat menanam dan memanen kopi. Ia merupakan ruang ekonomi yang mempertemukan pekerja, keluarga, masyarakat sekitar, pelaku usaha, pengolah hasil, hingga mata rantai distribusi.
Dari pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan hingga distribusi, roda ekonomi terus bergerak.
Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari kebun. Ada keluarga yang kehidupannya mengikuti musim kopi. Ada pula pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, keberadaan perkebunan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak kopi yang dihasilkan. Di balik produksi terdapat nilai sosial yang jauh lebih panjang: pekerjaan, penghasilan keluarga, perputaran ekonomi masyarakat, dan pengetahuan yang tetap hidup.
Selama 48 jam menelusuri kawasan Ijen, saya semakin memahami bahwa kualitas kopi tidak lahir begitu saja.
PTPN I melalui Kebun Ijen memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kopi Arabika. Pemeliharaan tanaman, pengaturan tanaman penaung, pemanenan hingga penanganan pascapanen merupakan rangkaian pengetahuan yang menentukan kualitas akhir.
Kualitas kopi adalah pertemuan antara varietas, tanah, ketinggian, iklim, ketekunan manusia, dan konsistensi dalam merawat tanaman.
Alam menyediakan potensinya. Manusialah yang menentukan bagaimana potensi itu dikelola.
Maka ketika kita menyeruput kopi Ijen, sesungguhnya kita sedang menikmati hasil dari pertemuan alam dan kerja manusia.
Ijen, Ketika Negara dan Rakyat Bertemu
Kekuatan kopi Ijen juga tidak dapat dilepaskan dari perkebunan negara dan perkebunan rakyat yang tumbuh berdampingan.
Kawasan yang dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin. Pegunungan Ijen-Raung menjadi salah satu sentra penting kopi Arabika di Jawa Timur.
Berada pada ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut, dengan tanah vulkanik yang kaya unsur hara, kawasan ini memiliki kondisi alam yang mendukung pertumbuhan kopi Arabika. Iklim, ketinggian, serta praktik budidaya lintas generasi membentuk karakter kopi yang khas.
Kopi Arabika dari kawasan ini dikenal memiliki keasaman yang menonjol, aroma intens, ukuran biji sedang, serta sentuhan rasa manis menyerupai cokelat. Karakter tersebut memperkuat identitas Java Coffee sebagai kopi spesialti yang memiliki daya saing di pasar internasional. Kopi Arabika Bondowoso juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis.
Namun, kekuatan Ijen tidak berhenti pada cita rasa.
Di antara tanaman kopi tumbuh berbagai tanaman penaung seperti suren, dadap, kayu manis, pinus, dan kayu putih. Vegetasi tersebut membantu menjaga suhu dan kelembapan sekaligus menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan fauna, burung, dan serangga penyerbuk.
Kebun kopi, dengan demikian, bukan hanya ruang produksi. Ia adalah ruang ekologis yang hidup.
Produktivitas dan keberlanjutan tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama. Perkebunan yang menjaga ekosistem memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan memberi manfaat dalam jangka panjang.
Bagi PTPN I, Kebun Ijen karena itu bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah aset yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan ekologis sekaligus.
Jangan Berhenti pada Secangkir Kopi
Pertanyaan berikutnya : setelah lebih dari seabad, ke mana perjalanan kopi Ijen akan dibawa?
Warisan tidak cukup hanya dijaga. Ia harus dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman.
Kopi Ijen masih memiliki ruang pengembangan yang luas. Penguatan kualitas produksi, hilirisasi, wisata agro, edukasi kopi, penguatan merek, dan perluasan akses pasar dapat menjadi jalan untuk menciptakan nilai tambah.
Hilirisasi membuat nilai kopi tidak berhenti ketika biji meninggalkan kebun. Kopi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi sekaligus menjadi bagian dari identitas kawasan.
Begitu pula wisata agro. Pengunjung tidak hanya datang menikmati udara sejuk dan panorama lereng Ijen, tetapi dapat melihat sendiri perjalanan kopi: bagaimana tanaman dirawat, buah dipetik, diolah, hingga akhirnya tersaji dalam secangkir minuman.
Edukasi juga penting agar pengetahuan perkebunan tidak terputus.
Sebab warisan terbaik dari sebuah perkebunan bukan hanya tanaman yang diwariskan kepada generasi berikutnya, tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana merawat, mengolah, dan mengembangkannya.
Perjalanan saya ke Ijen hanya berlangsung dua hari. Namun, waktu yang singkat itu cukup untuk melihat bahwa sebuah perkebunan menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada apa yang tampak di permukaan.
Di sana ada manusia yang bekerja, keluarga yang menggantungkan kehidupan, masyarakat yang bergerak bersama roda ekonomi, pengetahuan yang diwariskan, alam yang dijaga, dan sejarah yang terus berjalan.
Lebih dari seabad perjalanan kopi Ijen menunjukkan bahwa perkebunan negara dapat menjadi bagian penting dari denyut kehidupan sebuah kawasan. Perannya bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, merawat lingkungan, dan memastikan pengetahuan tentang kopi tetap hidup.
Di lereng Ijen, sejarah tidak hanya tersimpan pada bangunan tua, lantai kayu, jalan perkebunan, atau hamparan tanaman kopi.
Sejarah itu masih bekerja.
Masih menghidupi.
Dan masih memberi harapan.
Maka, lain kali ketika secangkir kopi Ijen tersaji di hadapan kita, mungkin ada baiknya kita tidak buru-buru menyeruputnya.
Berhenti sejenak.
Bayangkan tanah tempat kopi itu tumbuh. Ingat tangan yang merawat dan memetiknya. Pikirkan keluarga yang kehidupannya bergantung pada kebun. Lihat hutan dan tanaman penaung yang menjaga ekosistemnya. Dan bayangkan sejarah panjang yang ikut mengalir dari lereng Ijen hingga ke dalam cangkir.
Sebab kopi Ijen bukan hanya untuk dinikmati.
Ia untuk dipahami.
Dan setelah memahami ceritanya, kita akan tahu bahwa di balik setiap tegukan, ada warisan yang sedang bekerja untuk terus menghidupi. (*)

