-->
Cari Berita

Breaking News

Golkar Kehilangan Kontak Dengan Nusron Wahid, Bahlil : Ini Musibah

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 18 September 2026

Doli, Nusron, Bahlil


INILAMPUNGCOM --- Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menghilang sejak peristiwa OTT KPK, 14 September 2026 lalu.


Sejumlah kolega dan temen dekat sesama di Partai Golkar, Doli Kurnia Tanjung pun menyatakan kesulitan berkomunikasi dengan Nusron Wahid.


Doli mengatakan, biasa bertemu Nusron dalam agenda resmi di Komisi II DPR. Namun dalam beberapa hari terakhir, Nusron juga tidak hadir dalam sejumlah agenda DPR yang mewajibkan kehadirannya sebagai Menteri ATR/BPN.


Doli adalah Wakil Ketua DPP Golkar yang juga duduk di Komisi II DPR. Lembaganya  memang mengundang Nusron rapat. Namun, dalam dua kali rapat, Nusron justru diwakili Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan.


"Sampai saat ini kami belum bisa mendapatkan komunikasi langsung dengan Pak Nusron ya," kata Doli kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).


Doli mengatakan pihak DPP Golkar juga telah berupaya mencari informasi dan membangun komunikasi dengan Nusron setelah mendengar kabar OTT KPK. Namun, hingga Kamis malam, upaya tersebut belum membuahkan hasil.


"Tentu sebagai teman, sebagai keluarga besar Partai Golkar, kami sih tidak berharap ya, bahwa kasus ini akan bisa sampai kepada saudara Nusron begitu," kata Doli.


Langkah klarifikasi sangat diperlukan dalam situasi, dan kondisi saat ini.  Biar publik tidak bertanya-tanya.


"Kalau memang Pak Nusron itu merasa tidak terlibat, tidak melakukan apa-apa, tidak terkait apa pun dengan orang-orang yang disebutkan KPK itu, saya kira ya klarifikasi saja. Sampaikan ke publik apa adanya begitu ya, bahwa memang itu tidak ada hubungannya sama sekali begitu ya," imbuh Doli yang juga ketua KAHMI itu.



Bahlil : Ini Musibah

Ditemui terpisah, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, merasa terpukul mendengar kadernya, Fahd A Rafiq alias Fahd El Fouz, kembali terjerat operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


"Ini adalah musibah yang sudah barang tentu tidak semua orang menginginkan ini, ya." kata Bahlil di komplek Istana, seperti ditulis KOMPAS, Kamis tadi malam.


Sebagai partai yang pengalaman, sebagai partai yang banyak kadernya, kata Bahlil Lahadalia tidak mudah dan silit mengontrol kader satu dengan yang lain.


Dia juga belum bersedia menanggapi soal sanksi untuk Fahd Arafiq yang tiga kali terlibat korupsi di KPK. Apakah Fahd dipecat atau cukup ditegur. (kgm/inilampung)

LIPSUS