-->
Cari Berita

Breaking News

Bisikan yang Merusak Ruh MTQ

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Rabu, 16 September 2026

MTQ XXXIII 2026


Oleh: Junaidi Jamsari -Alumni UIN Radin Intan Lampung & Magister Manajemen Universitas Saburai.


Seorang mantan dewan hakim MTQ pernah berbisik kepada saya dengan nada masygul, "Gumun aku, kesal sekalian heran melihat cara sebagian orang memberikan penilaian."

Kekesalan sang juri adalah potret dari rahasia terbuka yang tidak pernah terekam mikrofon panggung utama, pun tidak pernah tertulis di lembar penilaian resmi. Namun, hampir semua kafilah pernah mendengar atau setidaknya merasakannya.

Sebuah bisikan beracun yang berbunyi: "Anak siapa dia? Utusan dari provinsi mana?"

Sebuah kalimat pendek, namun di situlah letak rusaknya paradoks MTQ kita hari ini.


1. Ketika Tilawah Berubah Menjadi Panggung Kekuasaan.

Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) seharusnya menjadi ruang spiritual yang paling jujur. Di atas mimbar itu, yang berhak diuji hanyalah tartil, tajwid, fashahah, dan adab. Namun, apa yang terjadi jika sebelum ayat pertama selesai dibaca, benak sang penilai sudah dikepung oleh peta kekuasaan?

"Ini anak binaan kiai besar."

"Ini utusan provinsi tuan rumah."

"Ini kafilah dengan sokongan anggaran raksasa."

Jika pertanyaan-pertanyaan pragmatis itu yang mendahului objektivitas, maka yang dinilai bukan lagi keindahan bacaan, melainkan kedekatan. Bukan lagi kualitas modal suara, melainkan koneksi.

Padahal, Al-Qur'an turun bukan untuk mengukuhkan feodalisme "anak siapa". Sebaliknya, Islam datang untuk meruntuhkan sekat nasab tersebut. Sejarah mencatat bagaimana Bilal bin Rabah, seorang mantan budak hitam, bisa memiliki kedudukan yang lebih mulia di mata Allah ketimbang Abu Lahab yang bangsawan Quraisy. Rasulullah SAW pun menegaskan: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).


2. Memelihara Kecemasan Kafilah.

Hantu nepotisme ini melahirkan kecemasan yang nyata di benak para peserta. Mereka datang dari pelosok desa, kecamatan, hingga kabupaten, membawa mimpi besar ke tingkat nasional di Semarang.

Mereka telah berlatih berbulan-bulan, menahan kantuk, dan mengulang satu ayat puluhan ribu kali hingga tenggorokan kering. Namun, saat melangkah ke atas panggung nasional, ada ketakutan primordial yang tak berani mereka adukan kepada pelatihnya: "Apakah saya akan dinilai adil? Ataukah saya akan kalah bukan karena bacaan saya buruk, melainkan karena saya bukan 'anak siapa-siapa'?"

Kecemasan ini adalah tamparan keras. Ini menjadi bukti bahwa kita kerap terjebak pada kosmetik syiar. Kita sibuk membumikan panggung megah, gemerlap lampu LED, dan siaran langsung yang megah, tetapi abai membumikan satu nilai paling elementer dari Al-Qur'an: keadilan.


3. Melangitkan Manusia: Ujian Integritas di Semarang.

Di sinilah letak relevansi pidato Menteri Agama Nasaruddin Umar pada MTQ Nasional XXXI 2026. Beliau menekankan dua poin krusial untuk membenahi borok sistemik ini.

Pertama, standardisasi dewan hakim di bawah LPTQ. Penilaian harus dilembagakan dalam satu standar yang profesional, transparan, dan akuntabel—bukan berbasis subjektivitas "kedekatan".

Kedua, sebuah premis yang sangat filosofis: “Tidak ada artinya membumikan Al-Qur'an jika tidak melangitkan manusia.”

Melangitkan manusia berarti menaikkan derajat kejujuran dewan hakimnya, menegakkan integritas panitianya, dan memurnikan keikhlasan pesertanya. Jika manusianya tidak "melangit"—jika telinga juri masih menyisakan ruang untuk bisikan "anak siapa ini"—maka Al-Qur'an tidak akan pernah benar-benar membumi. Yang membumi hanyalah resonansi suaranya, bukan nilai-nilainya.


*Mengembalikan Ruh Mimbar Tilawah


Sudah saatnya kita mengembalikan MTQ ke khittah dan ruh awalnya: semangat masjid.

Di dalam masjid, tidak ada sekat stratifikasi sosial. Tidak ada yang bertanya Anda anak siapa. Di masjid, yang berhak maju menjadi imam adalah ia yang paling fasih bacaannya dan paling dalam pemahamannya, bukan yang paling kokoh koneksi politiknya.

Semoga pelaksanaan MTQ Nasional XXXI di Semarang ini menjadi riwayat terakhir dari kisah-kisah miring tentang bisikan penentu juara. 

Setelah ini, biarkan hanya ada satu pertanyaan tunggal yang tersisa di benak juri, panitia, dan penonton:

"Sudahkah Al-Qur'an itu hidup dan merasuk di dalam dada anak ini?"

Hanya dengan cara itulah, MTQ benar-benar berhasil membumikan Al-Qur'an sekaligus melangitkan manusia.

Wallahu a’lam bish-shawab. (**)

LIPSUS