INILAMPUNGCOM -- Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) kembali dibaca melalui suara para tokoh yang pernah bersentuhan dengan perjalanan organisasi tersebut.
Dari aktivis gerakan mahasiswa, hakim, hingga pejabat pemerintahan, mereka melihat Humanika bukan hanya sebagai bagian dari catatan pergerakan, tetapi juga sebagai ruang untuk merawat gagasan tentang kemanusiaan, keadilan, solidaritas, dan demokrasi.
Pesan dan refleksi itu disampaikan para tokoh melalui video yang dikirimkan kepada panitia Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun Humanika. Meski datang dari tempat dan ruang pengabdian yang berbeda, pesan tersebut memperlihatkan ikatan yang tetap terjaga dengan organisasi yang telah menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan pergerakan masyarakat sipil selama lebih dari tiga dekade.
Momentum 36 tahun Humanika pun tidak semata menjadi ruang untuk mengenang masa lalu. Reuni dan silaturahmi menjadi kesempatan mempertemukan kembali aktivis lintas generasi, merawat persahabatan yang pernah tumbuh, sekaligus melihat kembali tantangan kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi Indonesia di tengah perubahan zaman.
Bagi Andi Arief, mantan Ketua Umum SMID dan salah satu tokoh gerakan mahasiswa 1998, Humanika sejak awal memiliki karakter khas karena mempertemukan aktivis dari beragam latar pemikiran.
“Humanika adalah organisasi lintas ideologi. Ada elemen kanan, kiri, dan tengah yang berhimpun di dalamnya. Bersama organisasi pergerakan mahasiswa lainnya, Humanika menjadi bagian dari dinamika gerakan Reformasi 1998.”
Menurut Andi, perjalanan demokrasi Indonesia masih merupakan proses panjang. Karena itu, keberlanjutan kaderisasi dan tradisi intelektual menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.
“Kita ini bangsa yang belum selesai. Demokrasi masih membutuhkan perjuangan panjang, dan kaderisasi di Humanika harus terus berjalan.”
Refleksi tentang Humanika juga disampaikan Ketua Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Anas Urbaningrum. Dalam pesan videonya kepada panitia, ia melihat Humanika sebagai ruang tumbuhnya gagasan dan kesadaran kebangsaan.
“Selamat ulang tahun ke-36 Humanika. Tempat persemaian ide-ide segar, pikiran-pikiran merdeka, dan panggilan nurani untuk semakin cinta tanah air, semakin menghadirkan kemanusiaan. Teruslah humanis.”
Dari perspektif hukum, Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung RI Samsul Arif menilai nilai kemanusiaan dan keadilan perlu terus dijaga melalui berbagai ruang pengabdian, termasuk institusi negara.
“Kemerdekaan kekuasaan kehakiman merupakan bagian dari ikhtiar menjaga nilai kemanusiaan agar keadilan benar-benar dirasakan rakyat. Di usia ke-36, Humanika perlu tetap berpijak pada kemanusiaan, persahabatan, solidaritas, dan kerendahan hati.”
Pesan mengenai pentingnya kebersamaan datang pula dari Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi. Melalui pesan video yang disampaikan kepada panitia, ia berharap Humanika dapat terus memperkuat jejaring dan mengambil bagian dalam kehidupan demokrasi.
“Semoga Humanika konsisten memperkuat solidaritas, sinergi dan kolaborasi, membangun demokrasi yang sehat, serta terus memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keadilan.”
Harapan serupa disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Menurut dia, keberadaan organisasi masyarakat sipil tetap memiliki ruang untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Semoga Humanika semakin solid, progresif dan terus memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara demi Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.”
Sementara itu, Bupati Mandailing Natal H. Saipullah Nasution melihat usia 36 tahun sebagai momentum untuk memperluas pengabdian dan memperkuat kerja sama.
“Mari jadikan momentum 36 tahun ini untuk memperkuat kolaborasi, memperluas pengabdian, dan bersama-sama menghadirkan Indonesia yang lebih adil, manusiawi dan sejahtera.”
Pesan tentang konsistensi juga disampaikan Bupati Tulang Bawang Barat Novriwan Jaya dan Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis. Keduanya menilai perjalanan panjang Humanika menunjukkan bahwa sebuah gerakan dapat terus hidup ketika nilai yang diperjuangkan tetap menemukan relevansinya.
“Tiga puluh enam tahun adalah bukti konsistensi. Teruslah menjadi bagian dari gerakan masyarakat yang memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan di seluruh Indonesia. Humanika untuk keadilan, Humanika untuk Indonesia.”
Rangkaian pesan melalui video tersebut memperlihatkan bahwa jarak tidak menghapus hubungan yang telah dibangun sepanjang perjalanan Humanika. Para tokoh yang kini berada di berbagai ruang pengabdian tetap menyempatkan diri menyampaikan ucapan, refleksi, dan harapan untuk organisasi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Beragam pesan itu juga memperlihatkan satu titik temu: 36 tahun Humanika bukan hanya tentang usia organisasi, melainkan tentang perjalanan gagasan dan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.
Sebagian kader Humanika kini mengabdi di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, lembaga peradilan, pertahanan dan keamanan, politik, pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat sipil. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa gagasan yang tumbuh dari ruang gerakan dapat menemukan bentuk baru dalam profesi dan pengabdian.
Di tengah perubahan sosial dan politik yang terus berlangsung, tantangannya adalah bagaimana nilai kemanusiaan, keadilan, solidaritas, dan demokrasi tidak berhenti sebagai ingatan masa lalu. Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kerja nyata sesuai dengan ruang pengabdian masing-masing.
Karena itu, Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun Humanika tidak hanya menjadi pertemuan untuk mengenang masa lalu. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan kembali jejaring lintas generasi, merawat persahabatan, membaca perubahan zaman, dan membuka percakapan mengenai masa depan gerakan masyarakat sipil.
Tiga puluh enam tahun kemudian, Humanika membawa sejarah yang panjang sekaligus tantangan yang terus berubah. Masa lalu menjadi pijakan, persahabatan menjadi pengikat, sementara kemanusiaan dan keadilan tetap menjadi nilai yang memberi arah bagi perjalanan berikutnya.(fu/*)

