-->
Cari Berita

Breaking News

Ketika Wagub Jihan, Bupati Ella Jadi Santriwati: Naik Bentor di Arena Muktamar NU

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 28 Agustus 2026



INILAMPUNGCOM --- Banyak ekspresi tidak terduga yang mencuat di arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Seperti yang ditunjukkan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dan Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah. Kedua pimpinan pemerintahan itu langsung "kembali ke khittah" sebagai santriwati. Lepas begitu saja seluruh "ke-jaim-an" sebagai pejabat.

Keduanya penuh unggah-ungguh, menundukkan wajah saat diajak berbicara dengan yang lebih sepuh, bersalaman dengan menjulurkan kedua tangan sambil menundukkan badan, dan mencium tangan Bu Nyai yang ditemui, layaknya perilaku santriwati kebanyakan. Sebuah kehidupan yang puluhan tahun silam pernah Jihan dan Ela lakoni.

Ekspresi santriwati itu meletup begitu saja pada pembawaan keduanya. Dan layaknya santriwati yang jarang mendapatkan "hiburan", Wagub Jihan, Bupati Ela, ditemani anggota FPKB DPRD Lampung Tengah Binti Lutfiah, tampak penuh keceriaan saat bisa menaiki becak motor alias bentor.

Sepanjang jalan dari tempat pemukiman hingga arena pembukaan Muktamar ke-35 NU, Kamis siang, 27 Agustus 2026, Wagub Jihan, Bupati Ela dan Binti Lutfiah tiada henti ber-hahahihi. Mengenang kembali betapa nikmatnya sarana seperti itu saat menjadi santriwati dahulu kala.

Beberapa muktamirin asal Lampung yang memergoki aksi mereka, tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

"Itulah sebenarnya Mbak Jihan dan Teh Ela yang asli. Jiwa santriwatinya tetap melekat erat walau sekarang diamanahi jabatan tinggi," ucap Dedi, warga Nahdliyin asal Lampung Selatan.

Memang, di arena Muktamar ke-35 NU becak motor atau bentor adalah urat nadi mobilitas utama bagi puluhan ribu muktamirin dan penggembira dari seluruh Indonesia. Apalagi jarak antara rumah warga yang menjadi tempat "mondok", masjid, lokasi sidang, dan pasar cukup jauh.

Hebatnya, bentor itu melayani rute “door to door”. Dari rumah warga ke Lapangan Untung Suropati, Pasar Tambakberas hingga ke Masjid Bahrul Ulum.

Menurut Junaidi Jamsari, muktamirin asal Lampung Barat, tarif bentor pun sangat bersahabat. Hanya Rp10.000 sampai Rp15.000 sekali jalan. Ada juga sistem “borongan harian”, Rp50.000 untuk antar-jemput delegasi. Atau untuk mengambil pesanan tertentu.

Dan jumlah bentornya mencapai ratusan, berjejer di setiap sudut. Bahkan ada posko khusus “Pangkalan Becak Muktamar”.

Junaidi Jamsari menyampaikan, penumpang bentor bukan hanya muktamirin, tapi juga ibu-ibu penggembira, anak-anak, hingga kiai sepuh yang ingin keliling.

Dalam laporannya, Junaidi Jamsari menuliskan betapa Muktamar ke-35 NU benar-benar dirasakan manfaat ekonominya oleh warga. Penghasilan tukang becak, bentor sampai ojol, naik hingga tiga sampai empat kali lipat dari biasanya. 

Bagi penggembira, lansia, dan ibu-ibu, bentor sangat membantu. Jalanan padat dan parkir jauh, tapi bentor bisa masuk gang-gang kecil menuju rumah warga tempat menginap.

Enny, salah satu delegasi Lampung, bercerita:
“Naik becak motor sambil keliling kampung Tambakberas rasanya seperti napak tilas. Sambil zikir, sambil lihat santri lalu lalang. Ini pengalaman yang tidak akan dapat di hotel.”

Ketika delegasi dan penggembira dari Lampung memilih naik becak motor milik warga Jombang, disitu terjadi pertemuan dua budaya. Lampung yang “piil pesenggiri” bertemu dengan Jombang yang “santun dan guyub”. (kgm-1/inilampung)

LIPSUS