INILAMPUNGCOM --- Hampir bisa dipastikan setidaknya uang Rp1 miliar akan dikeluarkan puluhan pejabat Pemprov Lampung pada dua hari menjelang akhir pekan ini. Ironisnya, gelontoran dana sebanyak itu sama sekali tidak dinikmati rakyat Lampung.
Mengapa begitu? Karena uang para pejabat itu untuk mereka ke Malaysia dan "healing-healing" dalam agenda paket wisata dua hari satu malam.
Diketahui, 55 pejabat eselon II -plus istri atau suami- ditambah sekretaris atau pejabat eselon III, hari Kamis (12/2/2026) siang terbang ke Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) melalui Bandara Radin Inten II, Branti, Natar, Lampung Selatan.
Ngapain mereka kesana? Menurut surat Sekdaprov Marindo Kurniawan, Nomor: 500.11/17/V.13/2026 tanggal 9 Februari 2026 bersifat: Penting, dengan PERIHAL: Penerbangan Internasional Lampung - Kuala Lumpur.
Surat tersebut ditujukan kepada 55 pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemprov Lampung, guna menyambut pelaksanaan penerbangan reguler rute Lampung - Kuala Lumpur PP, akan dilaksanakan kegiatan Inaugural pada tanggal 12 Februari 2026 dilanjutkan perjalanan paket wisata dua hari satu malam, dengan salah satu rangkaian agenda pertemuan antara Pemprov Lampung dengan Kerajaan Malaysia (G-to-G/B-to-B).
"Mengingat sangat pentingnya acara tersebut, dihimbau kepada saudara untuk turut berpartisipasi dan mensukseskan acara tersebut dengan ikut dalam Inaugural dan pertemuan Gubernur Lampung dengan Kerajaan Malaysia," tulis surat Sekdaprov Marindo Kurniawan.
Pada surat yang ditembuskan ke Gubernur itu, Sekdaprov juga menyampaikan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi PT Baraya Surya Kentjana. Lalu berapa biaya perjalanan Lampung - Kuala Lumpur PP? Pada brosurnya PT Baraya menuliskan angka Rp5.990.000 per orang.
Bila biaya paket PP itu dijadikan Rp6.000.000 per orang, dengan masing-masing tiga orang dari 55 kepala OPD atau pejabat pimpinan tinggi pratama, maka didapat angka Rp990.000.000 dari perhitungan Rp6.000.000 x 165 orang.
Itu baru pejabatnya. Belum lagi mereka bawa ajudan dan staf, dan mungkin keluarga (anak). Dipastikan para ajudan juga diikutsertakan. Katakanlah 10 orang. Maka angka Rp990.000.000 ditambah Rp60.000.000 menjadi Rp1.050.000.000.
Itu baru nilai yang dikeluarkan pejabat Pemprov Lampung untuk harga paket PP yang ditetapkan PT Baraya Surya Kentjana yang ditunjuk pemprov sebagai travel tournya.
Belum lagi uang yang bakal dikeluarkan saat menikmati wisata di Malaysia.
Memangnya apa saja acara "cuci matanya"?
Mengacu pada ininerary inaugural flight yang dikeluarkan PT Baraya, sesampainya di Bandara KLIA hari Kamis (12/2/2026) sekira pukul 15.30 WIB, rombongan Pemprov Lampung -paling sedikit 175 orang- yang langsung dikomandani Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, melakukan tour ke Menara Petronas.
Usai menikmati Menara Petronas sejak pukul 17.00 WIB, baru pada malam harinya -diagendakan pukul 19.30 WIB- digelar acara jamuan makam malam Gubernur Lampung dan Atase Kerajaan Malaysia diselingi pembicaraan rencana jalinan kerja sama perdagangan dan pariwisata.
Jum'at (13/2/2026) pagi usai sarapan di hotel, rombongan langsung check out. Terus kemana? Melakukan kunjungan ke Dataran Merdeka.
Rombongan Pemprov Lampung melaksanakan solat Jum'at di Masjid Universiti Selangor di King Palace.
Acara "healing-healing" terus berlanjut, yaitu ke Mal Sintang - Bangi Avenue TCC. Puncak wisatanya adalah Shopping Mitsui Outlet Park.
Selepas berbelanja ria, dilanjutkan makan malam. Jum'at (13/2/2026) malam, sekira pukul 21.00 WIB, rombongan besar Pemprov Lampung menuju Bandara KLIA. Diperkirakan pukul 01.00 WIB Sabtu (14/2/2026) dinihari, sampai di Bandara Radin Inten II.
Yang patut menjadi catatan: jika 75 orang saja dari rombongan pejabat itu masing-masing membelanjakan uangnya Rp5.000.000, maka warga Malaysia menangguk pendapatan Rp375.000.000 dari kunjungan ini.
Dari hitungan sederhana saja setidaknya ada uang Rp1.425.000.000 -biaya PP Rp1.050.000.000 plus belanja minimal 75 orang Rp375.000.000.
Yang mencengangkan: demi suksesnya acara ini, Pemprov Lampung menugaskan PT Baraya menggandeng Bank Lampung untuk memberikan "modal" bagi pejabat yang "cekak" dengan bunga ringan.
Bagaimana mengembalikan pinjaman ke Bank Lampung? Dipotong melalui tunjangan kinerja alias tukin yang bersangkutan dalam beberapa bulan ke depan. Dan sejak Selasa (10/2/2026) pagi, tim PT Baraya beserta Bank Lampung telah "door to door" menemui kepala OPD.
Sampai sebegitu "agresifnya" Pemprov Lampung demi Inaugural penerbangan perdana internasional Lampung - Kuala Lumpur. (kgm-1/inilampung)

