![]() |
| Kunjungan kerja Gubernur Rahmat Mirzani Djausal saat di Lampung Barat |
INILAMPUNGCOM - Kunjungan kerja Gubernur Rahmat Mirzani Djausal beserta Sekdaprov Marindo Kurniawan dan belasan pejabat Pemprov Lampung sejak Rabu (17/12/2025) lalu, hari Jum'at (19/12/2025) ini bergeser ke Kabupaten Way Kanan.
Diketahui, roadshow kunjungan kerja Gubernur Mirza dimulai dari Kabupaten Tanggamus. Rabu (17/12/2025) malam, berada di Kabupaten Pesisir Barat. Kamis (18/12/2025) siang melaju ke Kabupaten Lampung Barat.
Tadi malam, Gubernur Mirza dan 60 orang anggota rombongannya menginap di objek wisata Bukit di Atas Awan, kawasan Balik Bukit.
Jum'at (19/12/2025) siang, Gubernur Mirza beserta rombongan berada di Kabupaten Way Kanan. Ia meninjau langsung lokasi dryer, BUMDes, dan desa digital di Kecamatan Buay Bahuga.
Beberapa petinggi Pemprov Lampung turut mendampingi, mulai dari Sekdaprov Marindo Kurniawan, Kepala Bappeda Anang Risgiyanto, Kepala BKD Rendi Reswandi, Kepala Disnaker Agus Nompitu, Kepala Dinas Koperasi & UKM Evie Fatmawaty, Kepala Dinas PMDes & Transmigrasi Saipul, Kepala Dinas PKP & CK Thomas Edwin, Kepala Diskominfotik Ganjar Jationo, Kepala Satpol PP M. Zulkarnain, Karo Umum M. Zulyardi, Plt Kepala BPKAD Nurul Fajri, hingga Plt Karo Adpim Fiter Rahmawan.
Diketahui, kedatangan Gubernur Mirza ke Lampung Barat, Kamis (18/12/2025) siang kemarin, dijadikan kesempatan bagi Bupati Parosil Mabsus untuk curhat.
Saat mendampingi Gubernur Mirza bertemu masyarakat Kecamatan Sukau yang berlangsung di Pekon Tanjung Raya, tidak disia-siakan Parosil Mabsus untuk curhat terkait potensi yang berada di kabupaten penghasil sayur-mayur tersebut.
Parosil Mabsus menjelaskan, masyarakat Lampung Barat mayoritas berprofesi sebagai petani padi, kopi dan sayur-mayur.
Namun, dikatakan Parosil Mabsus, sejauh ini masih mengalami beberapa kendala sehingga membuat kurang maksimalnya penghasilan masyarakat.
Seperti terkait pertanian padi, Parosil Mabsus menuturkan di Lampung Barat belum memiliki pabrik pengolahan padi. Kemudian, sayur-mayur masih sering kali petani mengalami kerugian. Hal tersebut disebabkan tidak stabilnya harga ditingkat petani.
"Pasokan beras untuk kebutuhan SPPG, kita masih mengambil dari kabupaten tetangga. Sayurannya pun belum bisa seutuhnya dari lokal, karena menurut ahli gizi kandungan pestisidanya masih tinggi," kata Parosil.
Menanggapi curhatan Bupati Lampung Barat, Gubernur Mirza menjelaskan, penyebab terjadinya harga sayur-mayur selama ini tidak stabil disebabkan adanya kiriman sayur-mayur dari luar daerah Lampung.
Sehingga sayur-mayur yang berasal dari Lampung, khsusunya Lampung Barat, harus mengikuti harga dari luar daerah.
Mirza menjanjikan, kedepan tidak boleh lagi ada sayuran dari luar Provinsi Lampung masuk ke Lampung selagi kabupaten-kabupaten di daerah Lampung mampu memasok kebutuhan.
"Bagaimana caranya kita memanfaatkan potensi-potensi yang ada di Lampung termasuk sayuran, agar masyarakat makmur," ungkapnya.
Namun, Gubernur juga mengingatkan kepada petani agar mengurangi penggunaan pestisida, agar hasil pertanian di Lampung Barat dapat diolah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia juga menjanjikan pihaknya akan menyediakan pabrik olahan gabah untuk mendukung sektor pertanian padi di Lampung Barat. (zal/inilampung)


